Weekly Photo Challenge; Angular

In response to The Daily Post’s weekly photo challenge: “Angular.”

Took this pict two days ago while visiting UNSW campus for the 3rd time.

image

This one was taken last July during IAP class excursion

image

And this last pict was also taken in July during my short visit to Canberra

image

Advertisements

Weekly Photo Challenge; Achievement

I remember I made a list of my personal goals a day before 2011 came to its end. Cant remember exactly things that I listed down at that time because I lost the list. However, I still remember one of them is pursuing my study overseas. And here I am today, writing this post from one the smallest continents on the earth.

Two Sydney's most famous icons
Two Sydney’s most famous icons

I have been in this country for more than 6 months. Given the fact that I started EVERYTHING from zero to be able to come here, I feel like that 6 months are simply amazingly hard to paint in words. I achieve one of the things that I always dream of since I was a kid. I prove to not only people who underestimate me, but more important, to myself, that I CAN. I have always believed that I can, but then believing and reality are two different things. But now, the reality says it all, I CAN.

Weekly Photo Challenge; Achievement

A little bit contemplation

Beberapa minggu belakangan ini, saya jadi sering bongkar-bongkar FB. Baca-baca postingan lama sambil nostalgila betapa dulu tingkah saya malu-maluin banget. Dari status FB yang alay, postingan foto gak jelas, sampai gonta-ganti relationship status yang aslinya mah gak pernah ganti sama sekali ūüėÄ Malu-maluin deh. Saya aja malu waktu baca ulang, gimana orang lain? Kalau 10 tahun kedepan saya jadi public figure kan gak banget kalau kealayan saya pas ABG dulu jadi konsumsi publik #ngarep. Bukannya saya nyesel pernah alay kaya gitu (tapi malu….. tetep), karena buat saya, dari situ saya belajar untuk gak alay lagi, ¬†tapi, no one knows, but Allah SWT, what future stores for us. Jadi,¬†sebagai langkah preventif aja, segala hal yang tingkat kealayannya dari 2/5 sudah saya amankan. Cukup jadi konsumsi pribadi saja ūüėÄ

Ngomong-ngomong soal postingan, waktu bersih-bersih wall FB kemarin, saya ketemu¬†postingan¬†salah satu teman saya di wall FB saya yang isinya, seingat saya, sukses bikin saya jengkel parah, dulu. Saya jengkel bukan karena isi harfiah dari postingan itu, tapi lebih karena saya merasa diunderestimate.¬†Saya dan teman saya ini punya sejarah obrolan yang agak-agak “kelam”. Jadi wajar aja (menurut saya), saya menganggap postingan dia itu lebih dari sekedar mengejek kealayan saya waktu itu. Kalau soal alay, waktu itu, orang mau ngomong apa ke saya, gak bakal mempan, karena prinsip saya dulu selama saya gak ganggu hak orang lain dengan perkataan atau tingkah saya,¬†who cares what you think of me???. Seingat saya, saya marah karena saya merasa teman saya ini menganggap saya gak bisa mencapai apa yang dicapai teman saya yang lain.

Sebenarnya mungkin wajar teman saya ini punya pandangan kaya gitu ke saya. Secara, 3 tahun sekelas, saya gak pernah bisa masuk 10 besar. Boro-boro masuk 10 besar, gak dapet peringkat terakhir di kelas  aja saya uda syukur banget. Tapi saya gak pernah tau si, pernah apa gak saya dapet peringkat terakhir di kelas, gak berani ngecek soalnya. Kan sesuatu banget kalo dapet ranking 21 dari 21 murid. Uda gak pinter, ditambah lagi sifat  pemalas saya. Jadi paket komplit gitu kan. Mungkin karena itu dia berasumsi seperti itu. Karena apa yang dia lihat. Jadi mungkin gak sepenuhnya salahnya dia, dia beranggapan saya ini gak mampu, sebagian mungkin salah saya sendiri.

Tapi tetap menurut saya, itu bukan alasan buat dia untuk mengaggap orang lain lebih rendah dan gak mampu. Siapa dia bisa tau saya akan jadi apa, bisa apa atau kemana di masa yang akan datang? You cant judge things you have no knowledge about. Mungkin memang butuh waktu lebih lama buat saya untuk mencapai apa yang sudah dicapai teman-teman saya yang lain. Mungkin saya memang harus merangkak untuk bisa ada di tempat saya sekarang ini. Tapi toh sekarang saya ada di sini. Di tempat yang dia pikir, saya gak bisa capai. Mungkin dia benar saya ini gak pintar dan pemalas, tapi dia gak tau saya punya kemauan dan keyakinan. Dia juga gak tau saya punya mimpi. Hanya karena saya gak pengumuman pake toa ke seluruh dunia tentang cita-cita, mimpi dan hasrat saya, buka berarti saya selalu menghabiskan waktu saya untuk beralay ria.

Quote favorit saya. Saya yakin saya bisa, maka di sinilah saya sekarang
Quote favorit saya. Saya yakin saya bisa, maka di sinilah saya sekarang

Rasanya, diremehkan itu luar biasa sekali. Bukan sekali dua kali saya diremehkan karena kemampuan akademis dan pembawaan saya, berulang kali. Mulai dari teman sampai dosen pernah. Gak cuma sedih, marah pun saya rasain karena saya merasa diperlakuin gak adil. Tapi toh pada akhirnya, mungkin saya malah harus bersyukur. Mungkin itu jalan yang diberikan Allah untuk membawa saya ke tempat saya saat ini. Karena kemarahan saya kepada orang-orang yang meremehkan saya, mungkin salah satu faktor yang membuat saya berusaha semakin keras sampai akhirnya saya bisa ada di sini sekarang.