Pantai Biru

e

Foto ini diambil kira-kira awal bulan lalu di Shelly Beach Port Macquarie NSW. Mungkin pantai ini salah satu yang terunik (menurut saya) di Australia. Langitnya yang biru bersih plus deretan batu-batu yang dipilokin di pinggiran pantainya, bikin saya kesengsem parah. Di hampir setiap batu di pantai ini, ada pesan/kesan dari orang-orang yang pernah datang ke sini. Awalnya saya pikir batu di pantai ini semacam love bridge di Paris atau Melbourne, tapi ternyata enggak. Pesan/kesan yang ditulis di batu-batu ini gak sebatas tentang cinta-cintaan aja. Ada yang tentang mengenang orang yang sudah meninggal, ada yang tentang persahabatan, ada pula quote-quote favorit orang yang pernah singgah di sini. Perpaduan antara batu-batu berwarna-warni dengan langitnya yang super biru, bikin saya betah banget leyeh-leyeh di pantai ini

Post ini disertakan dalam Turnamen foto Perjalanan ronde 57 di sini http://www.linasasmita.com/2015/02/turnamen-foto-perjalanan-ronde-57.html

Advertisements

Some of my first Impressions of Australia

Jadi inspirasi untuk nulis blog ini, biasanya dan seperti biasa muncul pada saat yang tidak tepat, contohnya, sekarang, waktu saya harusnya mendalami filosofi lingkungan, memahami kenapa kita (manusia) makan tuna tapi gak makan lumba-lumba?. Percayalah, saya berusaha dengan segenap jiwa raga saya untuk berusaha mengerti kenapa dan bagaimana akhirnya kita (manusia) menganggap lazim penangkapan tuna tapi gak lumba-lumba?. Tapi tentunya seperti biasa, walaupun sudah ditinggal ke mushalla buat shalat zuhur (nyari wangsit) sampe beli makan siang ke mall sebelah kampus (nasi sambal terong papa rich yang rasanya tentu saja tidak bisa menyaingi sambal terong buatan ibu saya), tetep aja, saya bingung kenapa? Yang kejadian malah saya dapat inspirasi buat nulis sesuatu di blog ini saat sedang berusaha menelan sambal terong yang keliatannya enak tapi enggak ini.

Jadi, tulisan kali ini tentang impresi saya tentang Australia, negara yang beberapa landmarknya saya kenal lewat monopoli waktu saya masi SD.

1. Suhu udara

Saya tiba di Australia hampir setahun yang lalu, tepatnya di bulan Mei. Menurut suhu-suhu yang sudah berpengalaman dengan Australia (waktu itu saya masih newbie), Mei itu waktu peralihan dari autumn ke winter. So, obviously, suhu udara akan jauh dibawah suhu udara yang biasa dirasakan di Indonesia, yang mana waktu itu saya ingat, di Lombok, suhu sudah mencapai 33 C. Jadi, harus siap siaga dong ya. Jaket musim dingin sudah dibeli, lengkap dengan syal, kaos kaki dan sarung tangan. Tapi ternyata, waktu landing di Sydney International Airport, saya merasa dinginnya winter di Sydney (pada bulan itu) hanya sebatas dingin kulkas saudara-saudara. Keluar dari airport pun, waktu itu saya mikir, gila ya cuma segini doang dinginnya?? Segini doang mah g ada apa-apanya. Perlu diingat waktu saya sampai saat itu, sekitar pukul 7 pagi. Jadi maksud saya, karena masih jam segitu harusnya masih dingin dong? Kan masih pagi. Apalagi waktu itu ada angin sepoi-sepoi yang menyambut kedatangan saya. Winter pake angin disini cuma segini doang batin saya sombong.

Winter in MQ Uni
Winter in MQ Uni

Tapi ternyata saudara-saudara, ingat kan larangan Tuhan YME plus pelajaran PPKn waktu SD. Takabur itu dilarang!! Berbahaya untuk kesehatan. Ada karma yang menunggu. Malam pertama saya di kota baru ini, berakhir dengan badan pegel-pegel keesokan harinya. Kenapa? Karena saya tidur dengan gaya kepompong semaleman menahan dinginnya udara malam Sydney. Selimut tebal bahan quilt dengan tingkat kehangatan 5 (yang paling tinggi) gak bisa menahan dinginnya malam yang menusuk tulang-tulang saya. Saya tidur pulas sekali malam itu, karena malam sebelumnya, saya gak bisa tidur di pesawat, tapi waktu bangun tetep aja badan saya rasanya kaya abis dipake nguli seminggu. Setelah malam itu saya tobat meremehkan winter di Sydney.

2. Darling Harbour Sydney

Saya baru bisa mengunjungi tempat ini, setelah seminggu berada di Sydney. Mau pergi lebih cepet, gak ada temen yang bisa diandalkan untuk menjajaki public transport-nya Sydney. Sesama anak baru, takut semua, takut nyasar plus gak ada yang bisa make google map, katrok! Di Indonesia mah gampang kalo nyasar, tinggal telpon taxi ato cari ojek. Tapi di sini? Taxi mahalnya kebangetan (contoh, dari bandara ke rumah saya kira-kira 100 dolar? Gila!!) dan ojek jelas gak ada. Jadilah saya menghatamkan minggu pertama saya untuk mengelilingi kampus baru dan mall samping rumah. Saya akhirnya membulatkan tekad pergi ke CBD (Central Business District) sendiri, karena ada teman dari Adelaide yang main ke Sydney. Waktu itulah saya pertama kali menelusuri pusat keramaian Sydney, termasuk Darling Harbour, yang letaknya memang di pusat kota. waktu pertama kali dikasi tau, rombongan saya bakal ke DH, saya deg-degan gimana gitu ya. Tempat yang selama ini cuma pernah saya liat gambarnya di papan monopoli (menyedihkan) akhirnya akan saya liat dengan mata kepala saya langsung. Super sekali rasanya!! Tapi ternyata saudara-saudara, kenyataan tidak selalu seindah bayangan! Waktu sampai di Darling Harbour, beginilah percakapan yang terjadi antara saya dan teman saya yang dari Adelaide.

Saya: begini doang Darling Harbour-nya??”

Temen saya (kebingungan, mengangguk dengan tatapan aneh):  iya ini darling harbour

Saya: darling harbour yang terkenal itu?

Temen saya (masih dengan tatapan aneh): iya, satu-satunya darling harbour.

Saya (masih susah percaya) : Begini doang?

Temen saya (bete) : iya!

Saya lalu terpaku dan termenung #eakk berusaha mengingat-ingat bagaimana gambar Darling Harbour yang ada di papan monopoli saya dulu. Rasanya, tempat ini bagus banget disana. Tapi apa yang saya liat, sore itu seperti 180 derajat terbalik dari gambar monopoli dan bayangan saya. Sore itu, Darling Harbour hanyalah dermaga yang tenang (kayu-kayu pembatas dermaganya bisa dipakai buat duduk-duduk santai) dengan yacht-yacht yang berbaris rapi dipinggirannya, plus gedung-gedung pencakar langit yang mengelilingi dermaga kecil ini. Cuma itu aja. Sore itu saya bingung, apa dan dimana spesialnya tempat ini sampai berjuta-juta orang tiap tahunnya datang mengunjungi tempat ini? Selain bingung, saya juga gak terima. Masa tempat yg dalam bayangan saya kayanya keren banget, cuma kaya gitu doang?. Doesnt make sense pikir saya. Saya merasa tertipu……….. oleh imajinasi saya sendiri.

Night view at Darling Harbour
Night view at Darling Harbour

Untungnya saya gak langsung patah semangat waktu itu. Saya bertahan di DH sampai matahari kembali ke peraduannya. Ternyata keputusan itu adalah a blessing in disguise gitu. Walaupun dingin, karena waktu itu, musim dingin sudah sah di Australia, tapi saya dan teman-teman saya tetap bertahan karena waktu itu kita mau nonton vivid aquatique. Dan disitulah saya mengerti kenapa tempat ini terkenal. Pantulan cahaya dari gedung-gedung yang mengelilingi dermaga kecil ini, sungguh sangat cantik saudara-saudara. Segala macam rupa dan warna cahaya terpantul di sedikit air di dermaga itu. Darn beautiful.

Moral of the story, dont judge something you have no full knowledge about! If you insist, keep it for your self. lol