Tentang Ilmu

Disclaimer: isi tulisan ini sebagian besar adalah omelan saya yang tidak tersalurkan

Jadi ceritanya tadi pagi saya baca buku tentang penempatan limbah pertambangan di dasar laut. Ada satu bab khusus yang didekasikan untuk menjelaskan bagaimana kehidupan di laut dalam, mulai dari sifat fisik, kimia, kondisi cahaya, tekanan, suhu, jenis organisme, cara mereka bertahan hidup dsb dsb. Pas baca, rasanya ngeri-ngeri sedap gitu. Sampai saat ini, kita manusia, yang sering banget ngerasa sok pinter, baru berhasil mengeksplorasi kurang dari 5% isi laut. Padahal, planet bumi kita tercinta ini, 70%nya adalah laut. Kan? Nah dari sini, saya tiba-tiba ingat juga perasaan saya kalo lagi nonton/baca acara/buku tentang luar angkasa. Saya selalu merasa, otak saya g nyampe buat bayangin apa yang ada jauh di atas sana.  Contohnya, pengumuman terbaru NASA, tentang temuan planet baru kaya bumi yang butuh waktu 11.250 tahun buat sampe sana. Kan? Terlalu mindblowing buat otak saya.

Berangkat dari campur aduknya perasaan saya tentang laut dalam dan luar angkasa, saya entah kenapa tiba-tiba juga keinget tentang interaksi saya sama beberapa orang yang sering (pengennya bilang selalu) merasa ilmu mereka adalah ilmu yang paling hebat, paling keren, paling kece, paling penting, dan paling-paling lainnya -_-.Kejadiannya macem-macem, ada yang blak-blakan langsung ngomong ilmu A g penting, tutup mata aja bisa belajarnya. Ada yang nyinyir si A g kompeten karena background ilmunya kurang mentereng. Ada yang ngenyekin orang yang komen tentang ilmu mereka yang luar biasa penting banget. Untuk kejadian yang ini, lain cerita kalo yg komen sok tau dan gmw dikasi tau, tapi innocent komen gt g perlu juga kali diserang habis-habisan, pake nyindir-nyindir ngomong ilmunya emang susah belajarnya. G kuat sis dengernya -_-

Mungkin penyebab orang yang kaya gini macem-macem juga kali ya. Ada yang mungkin karena dari sononya emang orangnya sengak dan sok pinter, ada yang mungkin karena “merasa” sudah bekerja keras dan merasa harus membawa diri sesuai dengan kerja kerasnya, ada yang mungkin karena memang merasa ilmu-ilmu lainnya secetek nyabut bulu ketek #sebelmaksimal.

Contoh paling gampang (yang pernah saya alami), anak-anak IPA (saya juga anak IPA) sok pinter yang g nganggep Manajemen itu sesuatu yang berharga untuk dipelajari. Saya esmosi dengernya. Situ pikir karena situ-situ bisa nurunin rumus fisika, ato bisa bedah manusia, jd ilmu sosial kaya manajemen g penting? Hello!! Situ pikir, perusahaan-perusahaan gede macem Unilever, Walmart, Shell, etc, kalo g dijalanin sama orang yang ngerti manajemen bakal bisa jualan? bakal bisa dapet untung? Situ bisa bikin produk, OK! pesawat terbang? mantap!! tapi bisa jualnya gak? bisa dapet uang buat modalin bikinnya gak?

Jadi maksud saya si intinya, jangan ngerasa ilmu anda ilmu yang paling penting sejagad raya. Kita ini, (iya KITA, saya dan anda sama, sama-sama manusia berkaki dua yang napasnya lewat idung ~_~) ibaratnya cuma buih-buih dilautan lepas!! Cobalah nengok ke atas masih ada jutaan bintang yang g bakal bisa kita datengin buat piknik! Coba nunduk dikit ke bawah, ada entah berapa puluh km, sampe kita bisa ketemu inti bumi. Anda yang diatas tanah, dibawah langit yang sibuk ngerasa ilmu anda sangat penting, apa masih g sadar kalo ilmu anda bukan jawaban atas segala2nya? Bisa dipake buat terbang ke Mars? Bisa dipake buat eksplorasi minyak bumi? Pernah denger integrated approach dalam mengatasi masalah? Itu gabungan berbagai disiplin ilmu. Solusi yang baik, menurut ahli-ahli, adalah solusi yang didapatkan dari pendekatan berbagai sisi dan mempertimbangkan berbagai variabel yang terlibat dalam masalah itu. Jadi butuh macem-macem ilmu bung! Kata lainnya, kerja sama!! kerja sama antar disiplin ilmu buat mecahin berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari kita. Situ pikir ilmu situ sendiri bisa bikin Indonesia bener? Hah -_-

Review tahun 2016

Agak udah basi si sebenernya nulis review tahun 2016 sekarang, secara ini uda tanggal berapa Januari 2017 -_-. Awalnya saya g berniat buat nulis review-reviewan. Saya pikir cukup saya simpan sendiri. Mau diapakan terserah saya. Tapi saya sadar, manusia kaya saya, lupanya jauh lebih banyak daripada ingatnya. Kalau misalnya niat saya mau menjadikan 2016 sebagai pelajaran dan evaluasi diri jadi g kesampean karena saya lupa, kan sedih juga. Jadi  saya putuskan saya akan tulis apa yang saya ingat, saya rasakan, dan pelajaran apa yang saya ambil selama 2016 kemarin.

So… 2016 was one of a kind year (dalam hidup saya). Banyak sekali event-event fenomenal (buat saya) yang terjadi sepanjang 2016. Perasaan campur aduk, macem es campur, mungkin understatement untuk apa yang saya rasakan. Air mata ngalir segentong, hati lelah, jiwa resah, badan capek adalah sedikit frasa yang bisa saya gunakan untuk menggambarkan 2016. Well karena saya memang g pintar berkata-kata si. Bahasa Indonesia saya kacau, bahasa inggris payah, bahasa sasak juga patah-patah. Kayanya saya cuma pinter berbahasa kalbu aja -_-

Tapi bukan berarti 2016 isinya yang sedih-sedih semua. I got to travel to some nice places. Went to Palembang for a friend’s wedding and to Sumbawa for some end year holiday. Both were fantastic experiences. So I shouldn’t have complained too much. Ha!! but I do love complaining? Who doesn’t? wekekekk. It is a way to relieve stress #excuse #excuse. So…. As long as it is not too much (who am I kidding? My complaint is always too much -_-).

Beberapa pelajaran berharga yang saya dapat selama 2016:

  • Real world is damn hard. Finishing master degree in a foreign country which language is not your forte is nothing compared to the hardship you have to face once you are thrown into reality!! Be prepared!
  • No matter what you do, people will always find a thing or two (or many) to talk about you (and mostly behind your back). So don’t bother! Just keep your head up and walk straight. What they say don’t determine who you area. As long as you know who you really are, you’ll be fine. Never let what they say affects you, especially your emotional state!!
  • It would be a waste of time to try changing their mind once they determine how they want to think of you. If they don’t say a thing to you, or asking clarifications directly to you, then just ignore them. To me, it is a sign that they only care of what can be gossiped about. So just focus on what really matters to you.
  • There will always be people who don’t like you. Even when you do nothing to them. They will always find a way so they could justify their dislike to you. Either you do something wrong to their close relative/friend or you offend them in the most invisible way. So again don’t bother!!
  • Be productive! Instead of wasting time dwelling with sadness over the fact that life is hard, you better do something that can help you grow as a person. This is what I didn’t do last year, I mopped too much -_- but surely 2017 will be different #semangat45
  • No one can help you but god, yourself, and parents. Never depend too much on others. Hooman tends to disappoint you. Sometimes even your parents disappoint you. In the end, you only have god and yourself. Be independent!
  • Even so, family especially parents are still where you could get the most comfort from. Therefore, just like you don’t want to be disappointed by them, try not to disappoint them too. You become who you are today because of them. They give you moreeee than whatever you could ever give them back. Also, never forget to cherish them. You don’t know until when you can be with them.

Tapi kalo diliat-liat, dipikir-pikir lagi, kedengarannya list di atas agak selfish ya. Seolah-olah semua tentang apa yang saya rasakan. Tapi sebenarnya gak begtu juga. Apa yang saya tulis diatas adalah apa yang saya rasakan tepat untuk saya lakukan setelah saya berusaha untuk menghindari kejadian-kejadian yang membuat saya merasa seperti diatas. Saya saudah berusaha dan kedepannya akan tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk menghindari gesekan-gesekan yang tidak diinginkan. But when what u did was not enough, even when you gave your best, the list happens. Krikkkkss

Overall, as I said before 2016 wasn’t totally a bad year, there were many unfortunate events but lesson learned coming with those events were also valuable. Other than the unfortunate events as I said earlier I also experienced many fantastic moments with whom I cherish. So another important lesson, try not to complaint too much and be grateful for every chance I got. Akankah saya bisa? Ha!!

Friend’s wedding

There are two ways you get notification of your friend’ wedding. First of course, you are notified personally by your friends. This one happen when you are close enough. Second, you are notified by others. It is good if the notification also comes from another friends. I mean a friend who is in your circle. In that sense, I think I consider myself lucky. At least I was informed by the latter option. Imagine if you found out your friend who you think you are close enough, is getting married, from strangers aka those who are not your friends. The feeling must be horrible.

Be positive!

Family and friends

So, as usual, I start writing (again) when I feel like a shit. Honestly, I wonder why I have this kind of habit? I mean, why I always want to remember shitty feelings and experiences in my life, instead of the happy ones. I guess it has something to do with the fact that when I am happy I can and willingly share it with as many people as possible. Whereas when I feel down, I dont know where should I turn my head to, who should I talk to? I dont know. I have friends. Of course. Who doesnt have friends? But as I grow older I dont know what happen. We are just not the same as we used to. Also, I think I have trust issue. LOL. This makes me sounds like a drama queen. I think what I am trying to say is I believe in my family more now. Not that I dont trust my friends. I trust them, it is just they feel so far, unreachable, that when I was at my lowest point I couldnt tell them what happened. Thus I feel like they dont care. I mean if they are my friends they should have known something is wrong with me? No? I guess I expect too much. I admit partly it is my fault. Surely.  I cant blame them though, we are moving on with our life. We just cant stuck at the same point where we were five or ten years ago. Anyway, since then, I realized that it is always family who stood behind me when I almost fall. It is family who hold me up when I cant move up. It is family who shed my tears when they fall down in the speed of Niagara Fall. It is family who always there for me, both in my happiest and shittiest moments in my life. I dont have to say anything, I dont have to explain shit, family will always be next to me. Family waits and at the end family will always hugs me no matter what. It is different with friends. You got misunderstood once you dont speak. But when no energy left to explain what happens (which also means unraveling ugly family problems), all that left is broken bond. So yeah, family will always comes first now. My number one priority.

 

Some of my first Impressions of Australia

Jadi inspirasi untuk nulis blog ini, biasanya dan seperti biasa muncul pada saat yang tidak tepat, contohnya, sekarang, waktu saya harusnya mendalami filosofi lingkungan, memahami kenapa kita (manusia) makan tuna tapi gak makan lumba-lumba?. Percayalah, saya berusaha dengan segenap jiwa raga saya untuk berusaha mengerti kenapa dan bagaimana akhirnya kita (manusia) menganggap lazim penangkapan tuna tapi gak lumba-lumba?. Tapi tentunya seperti biasa, walaupun sudah ditinggal ke mushalla buat shalat zuhur (nyari wangsit) sampe beli makan siang ke mall sebelah kampus (nasi sambal terong papa rich yang rasanya tentu saja tidak bisa menyaingi sambal terong buatan ibu saya), tetep aja, saya bingung kenapa? Yang kejadian malah saya dapat inspirasi buat nulis sesuatu di blog ini saat sedang berusaha menelan sambal terong yang keliatannya enak tapi enggak ini.

Jadi, tulisan kali ini tentang impresi saya tentang Australia, negara yang beberapa landmarknya saya kenal lewat monopoli waktu saya masi SD.

1. Suhu udara

Saya tiba di Australia hampir setahun yang lalu, tepatnya di bulan Mei. Menurut suhu-suhu yang sudah berpengalaman dengan Australia (waktu itu saya masih newbie), Mei itu waktu peralihan dari autumn ke winter. So, obviously, suhu udara akan jauh dibawah suhu udara yang biasa dirasakan di Indonesia, yang mana waktu itu saya ingat, di Lombok, suhu sudah mencapai 33 C. Jadi, harus siap siaga dong ya. Jaket musim dingin sudah dibeli, lengkap dengan syal, kaos kaki dan sarung tangan. Tapi ternyata, waktu landing di Sydney International Airport, saya merasa dinginnya winter di Sydney (pada bulan itu) hanya sebatas dingin kulkas saudara-saudara. Keluar dari airport pun, waktu itu saya mikir, gila ya cuma segini doang dinginnya?? Segini doang mah g ada apa-apanya. Perlu diingat waktu saya sampai saat itu, sekitar pukul 7 pagi. Jadi maksud saya, karena masih jam segitu harusnya masih dingin dong? Kan masih pagi. Apalagi waktu itu ada angin sepoi-sepoi yang menyambut kedatangan saya. Winter pake angin disini cuma segini doang batin saya sombong.

Winter in MQ Uni
Winter in MQ Uni

Tapi ternyata saudara-saudara, ingat kan larangan Tuhan YME plus pelajaran PPKn waktu SD. Takabur itu dilarang!! Berbahaya untuk kesehatan. Ada karma yang menunggu. Malam pertama saya di kota baru ini, berakhir dengan badan pegel-pegel keesokan harinya. Kenapa? Karena saya tidur dengan gaya kepompong semaleman menahan dinginnya udara malam Sydney. Selimut tebal bahan quilt dengan tingkat kehangatan 5 (yang paling tinggi) gak bisa menahan dinginnya malam yang menusuk tulang-tulang saya. Saya tidur pulas sekali malam itu, karena malam sebelumnya, saya gak bisa tidur di pesawat, tapi waktu bangun tetep aja badan saya rasanya kaya abis dipake nguli seminggu. Setelah malam itu saya tobat meremehkan winter di Sydney.

2. Darling Harbour Sydney

Saya baru bisa mengunjungi tempat ini, setelah seminggu berada di Sydney. Mau pergi lebih cepet, gak ada temen yang bisa diandalkan untuk menjajaki public transport-nya Sydney. Sesama anak baru, takut semua, takut nyasar plus gak ada yang bisa make google map, katrok! Di Indonesia mah gampang kalo nyasar, tinggal telpon taxi ato cari ojek. Tapi di sini? Taxi mahalnya kebangetan (contoh, dari bandara ke rumah saya kira-kira 100 dolar? Gila!!) dan ojek jelas gak ada. Jadilah saya menghatamkan minggu pertama saya untuk mengelilingi kampus baru dan mall samping rumah. Saya akhirnya membulatkan tekad pergi ke CBD (Central Business District) sendiri, karena ada teman dari Adelaide yang main ke Sydney. Waktu itulah saya pertama kali menelusuri pusat keramaian Sydney, termasuk Darling Harbour, yang letaknya memang di pusat kota. waktu pertama kali dikasi tau, rombongan saya bakal ke DH, saya deg-degan gimana gitu ya. Tempat yang selama ini cuma pernah saya liat gambarnya di papan monopoli (menyedihkan) akhirnya akan saya liat dengan mata kepala saya langsung. Super sekali rasanya!! Tapi ternyata saudara-saudara, kenyataan tidak selalu seindah bayangan! Waktu sampai di Darling Harbour, beginilah percakapan yang terjadi antara saya dan teman saya yang dari Adelaide.

Saya: begini doang Darling Harbour-nya??”

Temen saya (kebingungan, mengangguk dengan tatapan aneh):  iya ini darling harbour

Saya: darling harbour yang terkenal itu?

Temen saya (masih dengan tatapan aneh): iya, satu-satunya darling harbour.

Saya (masih susah percaya) : Begini doang?

Temen saya (bete) : iya!

Saya lalu terpaku dan termenung #eakk berusaha mengingat-ingat bagaimana gambar Darling Harbour yang ada di papan monopoli saya dulu. Rasanya, tempat ini bagus banget disana. Tapi apa yang saya liat, sore itu seperti 180 derajat terbalik dari gambar monopoli dan bayangan saya. Sore itu, Darling Harbour hanyalah dermaga yang tenang (kayu-kayu pembatas dermaganya bisa dipakai buat duduk-duduk santai) dengan yacht-yacht yang berbaris rapi dipinggirannya, plus gedung-gedung pencakar langit yang mengelilingi dermaga kecil ini. Cuma itu aja. Sore itu saya bingung, apa dan dimana spesialnya tempat ini sampai berjuta-juta orang tiap tahunnya datang mengunjungi tempat ini? Selain bingung, saya juga gak terima. Masa tempat yg dalam bayangan saya kayanya keren banget, cuma kaya gitu doang?. Doesnt make sense pikir saya. Saya merasa tertipu……….. oleh imajinasi saya sendiri.

Night view at Darling Harbour
Night view at Darling Harbour

Untungnya saya gak langsung patah semangat waktu itu. Saya bertahan di DH sampai matahari kembali ke peraduannya. Ternyata keputusan itu adalah a blessing in disguise gitu. Walaupun dingin, karena waktu itu, musim dingin sudah sah di Australia, tapi saya dan teman-teman saya tetap bertahan karena waktu itu kita mau nonton vivid aquatique. Dan disitulah saya mengerti kenapa tempat ini terkenal. Pantulan cahaya dari gedung-gedung yang mengelilingi dermaga kecil ini, sungguh sangat cantik saudara-saudara. Segala macam rupa dan warna cahaya terpantul di sedikit air di dermaga itu. Darn beautiful.

Moral of the story, dont judge something you have no full knowledge about! If you insist, keep it for your self. lol

A little bit contemplation

Beberapa minggu belakangan ini, saya jadi sering bongkar-bongkar FB. Baca-baca postingan lama sambil nostalgila betapa dulu tingkah saya malu-maluin banget. Dari status FB yang alay, postingan foto gak jelas, sampai gonta-ganti relationship status yang aslinya mah gak pernah ganti sama sekali 😀 Malu-maluin deh. Saya aja malu waktu baca ulang, gimana orang lain? Kalau 10 tahun kedepan saya jadi public figure kan gak banget kalau kealayan saya pas ABG dulu jadi konsumsi publik #ngarep. Bukannya saya nyesel pernah alay kaya gitu (tapi malu….. tetep), karena buat saya, dari situ saya belajar untuk gak alay lagi,  tapi, no one knows, but Allah SWT, what future stores for us. Jadi, sebagai langkah preventif aja, segala hal yang tingkat kealayannya dari 2/5 sudah saya amankan. Cukup jadi konsumsi pribadi saja 😀

Ngomong-ngomong soal postingan, waktu bersih-bersih wall FB kemarin, saya ketemu postingan salah satu teman saya di wall FB saya yang isinya, seingat saya, sukses bikin saya jengkel parah, dulu. Saya jengkel bukan karena isi harfiah dari postingan itu, tapi lebih karena saya merasa diunderestimate. Saya dan teman saya ini punya sejarah obrolan yang agak-agak “kelam”. Jadi wajar aja (menurut saya), saya menganggap postingan dia itu lebih dari sekedar mengejek kealayan saya waktu itu. Kalau soal alay, waktu itu, orang mau ngomong apa ke saya, gak bakal mempan, karena prinsip saya dulu selama saya gak ganggu hak orang lain dengan perkataan atau tingkah saya, who cares what you think of me???. Seingat saya, saya marah karena saya merasa teman saya ini menganggap saya gak bisa mencapai apa yang dicapai teman saya yang lain.

Sebenarnya mungkin wajar teman saya ini punya pandangan kaya gitu ke saya. Secara, 3 tahun sekelas, saya gak pernah bisa masuk 10 besar. Boro-boro masuk 10 besar, gak dapet peringkat terakhir di kelas  aja saya uda syukur banget. Tapi saya gak pernah tau si, pernah apa gak saya dapet peringkat terakhir di kelas, gak berani ngecek soalnya. Kan sesuatu banget kalo dapet ranking 21 dari 21 murid. Uda gak pinter, ditambah lagi sifat  pemalas saya. Jadi paket komplit gitu kan. Mungkin karena itu dia berasumsi seperti itu. Karena apa yang dia lihat. Jadi mungkin gak sepenuhnya salahnya dia, dia beranggapan saya ini gak mampu, sebagian mungkin salah saya sendiri.

Tapi tetap menurut saya, itu bukan alasan buat dia untuk mengaggap orang lain lebih rendah dan gak mampu. Siapa dia bisa tau saya akan jadi apa, bisa apa atau kemana di masa yang akan datang? You cant judge things you have no knowledge about. Mungkin memang butuh waktu lebih lama buat saya untuk mencapai apa yang sudah dicapai teman-teman saya yang lain. Mungkin saya memang harus merangkak untuk bisa ada di tempat saya sekarang ini. Tapi toh sekarang saya ada di sini. Di tempat yang dia pikir, saya gak bisa capai. Mungkin dia benar saya ini gak pintar dan pemalas, tapi dia gak tau saya punya kemauan dan keyakinan. Dia juga gak tau saya punya mimpi. Hanya karena saya gak pengumuman pake toa ke seluruh dunia tentang cita-cita, mimpi dan hasrat saya, buka berarti saya selalu menghabiskan waktu saya untuk beralay ria.

Quote favorit saya. Saya yakin saya bisa, maka di sinilah saya sekarang
Quote favorit saya. Saya yakin saya bisa, maka di sinilah saya sekarang

Rasanya, diremehkan itu luar biasa sekali. Bukan sekali dua kali saya diremehkan karena kemampuan akademis dan pembawaan saya, berulang kali. Mulai dari teman sampai dosen pernah. Gak cuma sedih, marah pun saya rasain karena saya merasa diperlakuin gak adil. Tapi toh pada akhirnya, mungkin saya malah harus bersyukur. Mungkin itu jalan yang diberikan Allah untuk membawa saya ke tempat saya saat ini. Karena kemarahan saya kepada orang-orang yang meremehkan saya, mungkin salah satu faktor yang membuat saya berusaha semakin keras sampai akhirnya saya bisa ada di sini sekarang.

Best friend or only friend?

Being almost half way to 50 has taught me various things about life. One of them is who is your real friend? There is this quote saying that when you were in Elementary-high school you had many people you considered best friends. But then as you grow older, only few left. This quote is a truth.

I know we grow up. I know we chose different path of life. I know nothing last forever. But it is just sad thinking about all good days we used to share but now we cant even hold a decent conversations. It is sad when you realized you cant even tell your best friend about how you feel, for you start to think they are not interested in what happens in your life anymore. Or worse because you think they dont care anymore. Or because they dont even want to share whats going on in their life, making you realize that you are not as important as you used to be. Thus, at the end of the day, I wonder what are they now? are they still my best friends or just a friend? I also wonder what I am to them now? I wonder about how they think of me? Because in the last few months I have realized that some of them dont think of me as important as how I think of them.

In which category our friendship belongs to now?