Some of my first Impressions of Australia

Jadi inspirasi untuk nulis blog ini, biasanya dan seperti biasa muncul pada saat yang tidak tepat, contohnya, sekarang, waktu saya harusnya mendalami filosofi lingkungan, memahami kenapa kita (manusia) makan tuna tapi gak makan lumba-lumba?. Percayalah, saya berusaha dengan segenap jiwa raga saya untuk berusaha mengerti kenapa dan bagaimana akhirnya kita (manusia) menganggap lazim penangkapan tuna tapi gak lumba-lumba?. Tapi tentunya seperti biasa, walaupun sudah ditinggal ke mushalla buat shalat zuhur (nyari wangsit) sampe beli makan siang ke mall sebelah kampus (nasi sambal terong papa rich yang rasanya tentu saja tidak bisa menyaingi sambal terong buatan ibu saya), tetep aja, saya bingung kenapa? Yang kejadian malah saya dapat inspirasi buat nulis sesuatu di blog ini saat sedang berusaha menelan sambal terong yang keliatannya enak tapi enggak ini.

Jadi, tulisan kali ini tentang impresi saya tentang Australia, negara yang beberapa landmarknya saya kenal lewat monopoli waktu saya masi SD.

1. Suhu udara

Saya tiba di Australia hampir setahun yang lalu, tepatnya di bulan Mei. Menurut suhu-suhu yang sudah berpengalaman dengan Australia (waktu itu saya masih newbie), Mei itu waktu peralihan dari autumn ke winter. So, obviously, suhu udara akan jauh dibawah suhu udara yang biasa dirasakan di Indonesia, yang mana waktu itu saya ingat, di Lombok, suhu sudah mencapai 33 C. Jadi, harus siap siaga dong ya. Jaket musim dingin sudah dibeli, lengkap dengan syal, kaos kaki dan sarung tangan. Tapi ternyata, waktu landing di Sydney International Airport, saya merasa dinginnya winter di Sydney (pada bulan itu) hanya sebatas dingin kulkas saudara-saudara. Keluar dari airport pun, waktu itu saya mikir, gila ya cuma segini doang dinginnya?? Segini doang mah g ada apa-apanya. Perlu diingat waktu saya sampai saat itu, sekitar pukul 7 pagi. Jadi maksud saya, karena masih jam segitu harusnya masih dingin dong? Kan masih pagi. Apalagi waktu itu ada angin sepoi-sepoi yang menyambut kedatangan saya. Winter pake angin disini cuma segini doang batin saya sombong.

Winter in MQ Uni
Winter in MQ Uni

Tapi ternyata saudara-saudara, ingat kan larangan Tuhan YME plus pelajaran PPKn waktu SD. Takabur itu dilarang!! Berbahaya untuk kesehatan. Ada karma yang menunggu. Malam pertama saya di kota baru ini, berakhir dengan badan pegel-pegel keesokan harinya. Kenapa? Karena saya tidur dengan gaya kepompong semaleman menahan dinginnya udara malam Sydney. Selimut tebal bahan quilt dengan tingkat kehangatan 5 (yang paling tinggi) gak bisa menahan dinginnya malam yang menusuk tulang-tulang saya. Saya tidur pulas sekali malam itu, karena malam sebelumnya, saya gak bisa tidur di pesawat, tapi waktu bangun tetep aja badan saya rasanya kaya abis dipake nguli seminggu. Setelah malam itu saya tobat meremehkan winter di Sydney.

2. Darling Harbour Sydney

Saya baru bisa mengunjungi tempat ini, setelah seminggu berada di Sydney. Mau pergi lebih cepet, gak ada temen yang bisa diandalkan untuk menjajaki public transport-nya Sydney. Sesama anak baru, takut semua, takut nyasar plus gak ada yang bisa make google map, katrok! Di Indonesia mah gampang kalo nyasar, tinggal telpon taxi ato cari ojek. Tapi di sini? Taxi mahalnya kebangetan (contoh, dari bandara ke rumah saya kira-kira 100 dolar? Gila!!) dan ojek jelas gak ada. Jadilah saya menghatamkan minggu pertama saya untuk mengelilingi kampus baru dan mall samping rumah. Saya akhirnya membulatkan tekad pergi ke CBD (Central Business District) sendiri, karena ada teman dari Adelaide yang main ke Sydney. Waktu itulah saya pertama kali menelusuri pusat keramaian Sydney, termasuk Darling Harbour, yang letaknya memang di pusat kota. waktu pertama kali dikasi tau, rombongan saya bakal ke DH, saya deg-degan gimana gitu ya. Tempat yang selama ini cuma pernah saya liat gambarnya di papan monopoli (menyedihkan) akhirnya akan saya liat dengan mata kepala saya langsung. Super sekali rasanya!! Tapi ternyata saudara-saudara, kenyataan tidak selalu seindah bayangan! Waktu sampai di Darling Harbour, beginilah percakapan yang terjadi antara saya dan teman saya yang dari Adelaide.

Saya: begini doang Darling Harbour-nya??”

Temen saya (kebingungan, mengangguk dengan tatapan aneh):  iya ini darling harbour

Saya: darling harbour yang terkenal itu?

Temen saya (masih dengan tatapan aneh): iya, satu-satunya darling harbour.

Saya (masih susah percaya) : Begini doang?

Temen saya (bete) : iya!

Saya lalu terpaku dan termenung #eakk berusaha mengingat-ingat bagaimana gambar Darling Harbour yang ada di papan monopoli saya dulu. Rasanya, tempat ini bagus banget disana. Tapi apa yang saya liat, sore itu seperti 180 derajat terbalik dari gambar monopoli dan bayangan saya. Sore itu, Darling Harbour hanyalah dermaga yang tenang (kayu-kayu pembatas dermaganya bisa dipakai buat duduk-duduk santai) dengan yacht-yacht yang berbaris rapi dipinggirannya, plus gedung-gedung pencakar langit yang mengelilingi dermaga kecil ini. Cuma itu aja. Sore itu saya bingung, apa dan dimana spesialnya tempat ini sampai berjuta-juta orang tiap tahunnya datang mengunjungi tempat ini? Selain bingung, saya juga gak terima. Masa tempat yg dalam bayangan saya kayanya keren banget, cuma kaya gitu doang?. Doesnt make sense pikir saya. Saya merasa tertipu……….. oleh imajinasi saya sendiri.

Night view at Darling Harbour
Night view at Darling Harbour

Untungnya saya gak langsung patah semangat waktu itu. Saya bertahan di DH sampai matahari kembali ke peraduannya. Ternyata keputusan itu adalah a blessing in disguise gitu. Walaupun dingin, karena waktu itu, musim dingin sudah sah di Australia, tapi saya dan teman-teman saya tetap bertahan karena waktu itu kita mau nonton vivid aquatique. Dan disitulah saya mengerti kenapa tempat ini terkenal. Pantulan cahaya dari gedung-gedung yang mengelilingi dermaga kecil ini, sungguh sangat cantik saudara-saudara. Segala macam rupa dan warna cahaya terpantul di sedikit air di dermaga itu. Darn beautiful.

Moral of the story, dont judge something you have no full knowledge about! If you insist, keep it for your self. lol

Advertisements

Weekly Photo Challenge; Angular

In response to The Daily Post’s weekly photo challenge: “Angular.”

Took this pict two days ago while visiting UNSW campus for the 3rd time.

image

This one was taken last July during IAP class excursion

image

And this last pict was also taken in July during my short visit to Canberra

image

Prayer room in Sydney

Probably this is my favorite phrase ever: Time flies~

It feels like just yesterday I left Indonesia but here I am counting days of my staying in Sydney. It’s been more than 2 months O.O

Lots of things have happened during my 2 months stay here. Of course. I dont really know how to write them all even though i want to. It is time consuming and obviously I am being lazy here. However, lets just forget how lazy I am because even it is unforgettable, it feels like it is better to move to main purpose of this post. The purpose of my post today is to share my experience about finding a place to pray for us Muslim in Sydney CBD. 

On Thursday, July 31st I and my friend went to The university of Sydney for sightseeing. Both of us are Harry Potter fans which are a lil bit obsessed with old historic sites like all those buildings in Harry Potter movies. Fortunately we dont have to go all the way to UK to satisfy our thirst of those type of buildings. Australia also has them. Sydney has them. The University of Sydney.

Anyway, after looking around the Usyd campus for more than 2 hours we decide to find something to eat before heading home. And thats how I found this restaurant which provides us Muslim customers, a place to pray (it’s not exactly a room but it is better than praying under a bridge or in a corridor in front of a restroom). It is a thai restaurant btw. Unfortunately I forgot what it is called T___T my bad.

I will try to find what the name and where the exact location of that restaurant is. For all I can say it is in George st, very close to central station Sydney. If you come from YHA building just go straight towards west until you reach a T-Intersection and then turn left. You will also pas a halal chinese restaurant on your left side called Chinese noodle bar. From here you just need to walk a lil bit more as the thai restaurant is only one block away. Keep walking straight till you see the restaurant sign. It is on the right side of the street (from where you are coming). You just need cross the street and then you arrive at the restaurant.

The prayer room is on the 2nd floor. They provide sajadah but not mukena. So dont forget to bring your own mukena. Wastafel for wudhu is in the same room as the toilet. I like it because it gives me more freedom to do wudhu. I mean if the wastafel is placed outside the toilet, other people might see you when you put your legs on wastafel. And probably they will think you as a weirdo. Very thoughtfull of the owner. At this point I really am sure that the owner is also a muslim.

If you ask me about the food I cant say much because even tho I have been there twice, I dont really understand about taste. Food that I have tried there asre not bad but not good either, in my tongue.Probably it is because no matter what happen I most of the time think that Indonesian food is the best food everyone could ask for. I am biased I know I am. However whenever I was there it was always quite crowded. Probably they already have their loyal consumers. Or probably it is just me who cant adapt well with other types of cuisine. Idk. Taste is always about preference. So dont worry even I say the taste doesnt go well with my tongue, you probably wont think so.
These are some food that I have tried

image
Tomyun beef soup and springroll

The tomyum soup was too sour for my taste. The spring rolls were quite nice.

image
Dimsum

image

I forgot what is the last one called. It was mix of noodle, veggies and chicken. It was quite sweet. Thats why i decided to pour some tea spoons of dry chilli. And then I cried. My eyes and my nose. Literally. But the taste improved a lot compared to before I add chilli.

Most likely I will come back to this restaurant for the prayer room. And for other food I havent tried.
Btw the prices are reasonable. I dont remember exactly how much but they must be around AUD $10-15. Standard sydney price.